Senin, 01 Maret 2010

PERJALANAN ARAFAH

MESJID YANG MELAYU

Dalam mesjid yang melaju
Dengan kecepatan 850 km per jam
Kami suduk kepada Mu

Dalam mesjid yang sedang terbang
Diatas ketinggin 10.000 m
Kami berteduh mengharap kasih Mu

Kau lah yang kami tuju ya Allah
Kau lah yang kami rindu ya Allah

Jakartta – Jeddah, 18 Mei 1993


TIBA DI MAKKAH

wahai kota suci
kota kelahiran Nabi
terimalah kami
datang dari jauh
lebih dari 70.000 m
telah kami tempuh

wahai kota suci
kota perjuangan Nabi
menjelang fajar kami tiba
jemari sejuk embun pun menerima

wahai kota suci
kota kerinduan
telah kami jejakkan kaki
di bumi Makkah
lalu wajah tengadah
mengucap syukur kapada Nya
patas undangan Nya
atas perkenan Nya
atas keridhaan Nya

Makkah, l9 Mei l993


SALAT FAJAR DI ATAS TANGGA

inilah salat fajar
seorang hamba
hanya diatas tangga
karena tempat lain
di Masjidil Haram
penuh semua

inilah salat fajar
seorang hamba
bersama embun
menetes air mata
hingga basahlah altar Mu
maafkan hamba, Tuhanku

Makkah, 20 Mei l993


MENGINGAT ENGKAU

ya Allah
aku berjalan
mengelilingi Ka'bah
membawa tubuh luka

aku berlari
membawa hati yang aib
mengelilingi rumah Mu
ya Tuhanku
aku ingin mendapat ampunan Mu
aku ingin mendapat ridha Mu

kaki berjalan
dituntun ingatan
kaki berlari
dipecut jiwa
yang rindu pada Mu

ya Allah
beri hamba
iman yang teguh
hati yang khusuk
mengingat Engkau
merindukan Engkau

Makkah, 26 Mei l993


MAAFKAN YANG PUNYA HOTEL, YA ALLAH

ya Allah
maafkan yang punya hotel
tempat para jamaah menginap
karena layanan yang kurang memuaskan
lampu sebentar hidup sebentar mati
sehingga jamaah yang sedang makan
meraba-raba dalam gelap
apa yang akan di suap

maafkan yang punya hotel, ya Allah
yang air untuk mandi dan wudhu'
sebentar hidup sebentar mati
lalu terpaksa mandi cara singkat
dan dari wc mulai tersebar harum yang
menyengat

ya Allah
maafkan yang punya hotel
yang layanannya kepada jamaah kurang
memuaskan
karena lifnya sering macet
sehingga jamaah harus naik turun tangga
ketingkat enam atau lebih
dan saat itu alangkah menderitanya
yang mengidap penyakit jantung atau
asma

ya Allah
maafkan yang punya hotel
yang menurut janji semua akan beres
air pasti ada, aliran listrik bagus
dan lif baik turun naiknya

ya Allah
maafkan yang punya hotel
karena jamaah yang ratusan jumlahnya
tetap sabar meski ada satu dua yang
kesal
tapi tak sampai mengeluarkan kata-kata
kasar

Misfalah, Makkah, 28 Mei l993


SUJUD PERTAMA DI ARAFAH

ya Allah
inilah sujudku yang pertama di Arafah
kening menyentuh pasir dan batu
salat magrib yang nyaman
oleh angin yang Kau turunkan

ya Allah
inilah air mata rindu di Arafah
mengalir untuk Mu
saat kemah mulai diserbu kelam
saat gunung batu mulai diam

ya Allah
inilah sujudku yang pertama di Arafah
sujud seorang hamba
yang datang dari negeri jauh
membawa beban beribu keluh
ingin berlindung pada Mu
mohon ampun pada Mu
pada hari wuquf itu

Arafah, 30 Mei l993


ARAFAH 1

panas pasir di Arafah
mencoba membakar telapak kakiku
panas batu di Arafah
mencoba membakar kulitku
panas angin di Arafah
mencoba membakar dagingku
panas matahari di Arafah
mencoba membakar tubuhku
panas rindu Mu di Arafah
mencoba membakar cintaku
panas air mata di Arafah
dengan sekolam penyesalan
mohon ampunan kepada Mu
semoga ridha Mu
membakar dosa-dosaku

Arafah, 30 Mei l993


ARAFAH 2

batu-batu disisi kemah
adakah engkau batu
yang pernah menyaksikan
pertemuan Adam dan Hawa
di padang Arafah ini

bukit-bukit yang memagari
ratusan ribu kemah jamaah haji
adakah engkau bukit
yang pernah mendengar
permintaan Adam dan Hawa
mohon pengampunan
di padang Arafah ini

langit pagi yang agak mendung
adakah engkau langit murung
yang pernah memandang
dua hamba Allah
Adam dan Hawa
merasa damai kembali
setelah terlempar kebumi

pasir berserakan di padang Arafah
adakah engkau pernah melukis
mengukir jejak Adam dan Hawa
yang kemudian tercatat
dalam sejarah yang abadi

sajadah yang terkembang
disetiap kemah
dan dahi yang sujud diatasnya
bukankah ini pernyataan rasa
yang ingin selalu
lebih dekat pada Mu

ingin memperoleh ampunan Mu
ingin mendapat ridha Mu

Makkah, 30 Mei l993


WANITA, SIAPAKAH ENGKAU

wanita, siapakah engkau
yang melengos memandang kearahku
dia yang tidur
dipelataran Masjidil Haram
antara tempat sa'i
dan tempat mancur air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang berwajah pucat
memandang dengan sayu kepadaku
dia yang lelah
rebah diatas kardus bekas
di pelataran Masjidil Haram
dan tempat mancur air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang dibangunkan orang berpakaian ihram
lalu meraih uang satu real
kemudian engkau runduk
dan rebah lagi ke atas kardus bekas
di pelataran Masjidil Haram
dekat tempat sa'i dan air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang tak pernah lagi perduli padaku
tak memandang tak melengos
badan rebah
berupa seonggok tubuh lelah
dan tidur dengan pulas

wanita, kucari engkau dalam diriku
dan kutemu
wanita engkaulah itu
engkaulah yang berwajah pucat engkaulah yang bermata sayu
wanita engkaulah itu
yang ketika aku masih kecil
kau izinkan kupetik ketimun dari
kebunmu
lalu kujual untuk biaya sekolahku
wanita, engkaulah itu
yang sebelum meninggal dulu
sempat bergurau denganku
kau minta dibayarkan resep obatmu
wanita, engkaulah itu
engkau adalah adik ibuku
yang telah lama pergi
dipanggil Illahi Rabbi

Makkah, 4 Juni l993


NENEK YAMNUN

nenek Yamnun
orang kata nenek yang pikun
usianya memang tua
(sekitar 80 tahun)
orang menyebutnya pikun
tapi ia tak merasa pikun
malah ia bilang
jangan saya disebut pikun

melakukan salat di Masjidil Haram
nenek Yamnun pergi bersama teman jamaah
ketika pulang ia terpisah
lalu pulang kepondokan sendirian
dibantu petugas lalu lintas
atau siapa saja yang ikhlas

nenek Yamnun tak suka disebut pikun
walau pergi ke kamar mandi saja
ia lupa pulang kekemahnya
nenek Yamun tak suka disebut pikun
walau ia sering bertanya
apa ia sudah salat atau belum

dalam perjalanan
menunuaikan ibadah haji
sekitar empat puluh hari
orang-orang diserang flu dan batuk
nenek Yamnun tidak
ia tak pernah pergi
kedokter kloter
nenek Yamnun tak terkena sakit perut
meski makanan sangat berbeda
dengan kebiasaannya

nenek Yamnun tak suka disebut pikun
waktu luangnya diisi dengan tekun
sebuah Quran kecil selalu berada
ditangan
dia baca tanpa suara
matanya menyala tanpa kaca mata
tasbih tak lepas dari genggaman
kadang sambil tiduran ia gunakan

nenek Yamnun
seluruh hidup diisi dengan tekun
zikir dimulut, zikir dihati
ganti berganti beralun-alun

Makkah, 5 Juni l993


SEORANG NENEK DARI BAMBU APUS

hari jum'at
jum'at yang panas
seorang nenek dari Bambu Apus melakukan
tawaf
tubuhnya yang kecil
telah merasakan api matahari di Arafah
dan tangannya yang mungil
telah melempar setan dan jin di Mina

hari jum'at
jum'at yang panas
seorang nenek dari Bambu Apus melakukan
tawaf
bersama ribuan jamaah
langkahnya langkah kecil
mulut komat kamit
mengucap doa dan zikir

pada putaran ketiga
diantara Ka'bah dan maqam Nabi Ibahim
tubuh nenek dari Bampu Apus
terjepit
nafasnya sesak
ia mengucap Allah...Allah
tiba-tiba disisinya ada
seorang berbadan tinggi
berpakaian putih-putih bertopi haji
merentangkan lengan
melindungi
melihat itu
sang nenek menangis
nenek itu bersyukur
orang berpakain putihpun menangis
mereka sama menangis
lalu orang berpakaian putih
menyeka mata nenek dengan baju putihnya
lalu menuntun melangkah
berjalan melanjutkan tawaf
ketika nenek menoleh
ingin mengucapkan terimakasih
orang berpakain putih
tak nampak lagi

hari jum'at
jum'at yang panas
seorang nenek dari Bambu Apus melakukan
tawaf
tubuhnya yang kecil
bergerak perlahan-lahan
ditengah gelombang manusia bergesekan
bagai mengitari tujuh lapis langit
ternyata ada sesuatu yang sulit
yang kemudian dilapangkan
kini hati nenek nyaman
ia merasa memperoleh keridhaan

Makkah, 6 Juni 1993


SUPIR BUS KAMI ORANG TURKI

Arafah malam hari
udara masih terasa panas
para jamaah mulai naik bus
akan segera menuju Mina

supir bus kami
orang muda
berkulit putih rata
berbadan tinggi
mengaku orang Turki
bercelana warna terang
dada bidang
tanpa baju

diatas bus meski diisi
lebih dari semestinya
karena disamping korsi yang penuh
masih ada puluhan yang berdiri
masih terasa sejuk juga
karena pendingin menyala
tapi begitu bus bergerak
belum dua puluh meter
mulai terasa panas
karena pendingin mati
udara pengap karena
jendela tak bisa dibuka

penumpang yang berkeringat
mulai buka suara
mengapa pendinginnya tak menyala
tapi supir orang Turki
tak menjawab apa-apa
ia tak bisa berbahasa Arab
Inggeris pun tidak jamaah makin gelisah
peluh menglir dimana-mana
baju mulai basah
jamaah wanita minta
jamaah pria tidak merokok
jamaah pria minta
jamaah wanita mengambil kipas
kalau-kalau dapat mengurangi panas
sedang bus semakin perlahan jalannya
macet dimana-mana
memang banyak jalan menuju Mina
tapi jutaan jamaah menuju kesana
pada waktu kurang lebih sama
dan bus kami cuma salah satu
diantara puluhan atau ratusan ribu

walau kesabaran masih terpelihara
namun panas terus menyengat
maka supir diminta membuka pintu
yang didepan dan dibelakang
dua lubang angin dibubungan
dibuka jamaah tanpa rundingan
dan supir yang tanpa baju
rupanya maklum hal itu

bus yang bergerak bagai siput itu
setelah sekitar enam jam merambat
akhirnya menjelang subuh tiba dikawasan
Mina
tapi dimana kemah kami belum diketahui
hampir setengah jam lagi
bus merambat
barulah tiba di kemah
dan jamaah dengan tubuh lelah
mulai turun
gontai langkahnya perjalanan Arafah - Mina
yang berjarak hanya belasan km saja
sempat ditempuh dengan enam jam
mungkin ini mengesalkan
fikir beberapa jamaah
tapi ketika diketahui
ada rombongan menempuh
sehari semalam
para jamaah yang tadi kesal
bersyukur juga
ternyata nasibnya lebih baik juga

dikemah para jamaah tak bisa berlama-
lama
mereka siap-siap salat subuh
kemudian segera menuju tempat melempar
jumrah

Makkah, 7 Juni l993


IBU MIMIH DARI PISANGAN MELEMPAR JIN DI MINA

ibu Mimih dari Pisangan
naik haji bersama suami

acara di Mina memanglah singkat
cuma tiga hari
namun ibadah amatlah padat
salat dan zikir ganti berganti

hari pertama di Mina
melempar jin
berjalan licin
hari kedua di Mina
melempar setan
tercatatlah kejadian

seperti biasa
ibu Mimih yang berbadan gembur
melontar didampingi suami
tapi entah karena apa
pada lemparan batu ke tujuh
di Wustha
suami tak nampak
jutaan orang berdesakan
dan ibu Mimih rubuh
bruk...
tapi tiba-tiba
datang orang berbadan besar
berpakaian putih-putih
parasnya pun bersih
dengan mudah mengangkat pada ketiak
dan ibu Mimih bagai terpacak
ditengah gelombang jutaan orang
berdesakan
merasa lepas dari maut
ibu Mimih dari Pisangan
mengucapkan pujian
Alhamdulillah...
dan kepada orang berpakaian putih
mengucapkan terimakasih
dan orang itu berbalik menepuk
bahu ibu Mimih tiga kali
lalu pergi
menghilang
raib...

Makkah, l0 Juni l993


GADIS KECIL DAN ROTI

seorang gadis manis
kecil setinggi lutut ibunya
membawa plastik besar berisi roti

dengan girang ia menyandangnya
meski nampak tubuhnya yang kecil
terasa tak seimbang

dituntun ibunya
yang berbaju hitam berkerudung hitam
mereka sampai pada pelataran Mesjidil
Haram
lalu duduk diatas kardus bekas
sang ibu tengadah
berdoa
bagai meniru ibu
gadis kecil itu
menengadahkan wajah
lalu mengangkat tangan
lalu menepuk-nepuk
sambil bicara kepada ibunya

kita tak tahu
apakah mereka sudah makan sehari ini
yang kita saksikan
gadis kecil dengan riang
membawa roti dalam plastik besar
berputar-putar
mengelilingi ibunya
yang terus berdoa

roti itu beberapa saat lalu
mereka peroleh secara cuma-cuma

dibagikan kepada para jamaah
sebagai sedekah

Makkah, l2 Juni l993


SEORANG LELAKI 56 TAHUN JUMPA NENEK DI MAKKAH

selesai salat jum'at
seorang lelaki 56 tahun
melintasi halaman Mesjidil Haram
ingin pulang kepondokan
diluar udara pukul l3.45 sangat panas
payung dikembang
dan handuk dibasahi
lalu ditaruh diatas kepala

melewati halaman Mesjidil Haram
mendekat arah ke jalan raya
ada mobil dikerumuni orang-orang
ternyata ada pembagian makanan
untuk para jamaah yang memerlukan

lelaki 56 tahun itu melangkah dalam
panas
persis ketika melintasi dan berpapasan
dengan mobil
pembagian sedekah selesai
orang-orang di atas mobil
yang ingin mendapatkan makanan
diminta turun
petugas berseru
habis-habis

seorang wanita berbadan agak gemuk
mendekat ke pintu mobil bagian depan
rupanya ia ingin mendapat bagian
tapi petugas berseru
habis-habis
ketika wanita gemuk itu menoleh sekejap
ketemu pandang dengan lelaki 56 tahun
ia ingat persisi sama dengan wajah
neneknya
yang sudah 50 tahun lalu meninggal
lelaki 56 tahun itu ingat
ketika ia sekolah SD di desanya
nenek sering memberi uang jajan
dan ketika jenazah nenek dibawa
dari rumah kekubur
ayahnya menangis
sebuah sisir tanduk berwarna hitam
milik neneknya diberikan padanya

salat magrib dan isa selanjutnya
lelaki 56 tahun itu berdoa untuk
neneknya
dan sebuah quran dibelinya untuk wakaf
neneknya

Makkah, l2 Juni l993


BERTEMU BAYANG

matahari pagi
menurunkan bayang jendela
pada ruang sa'i
setiap aku berjalan
dari Safa ke Marwa
aku bertemu bayang itu
bayang yang jelas ada
tapi terputus-putus
tak jelas sambungannya

setiap aku melangkah
aku bertemu bayang itu
aku bertanya-tanya dalam diri
begitukah kiranya bentuk dosa hamba
yang jelas ada
tapi tak jelas asal usulnya

ya Tuhanku
walau hamba yang membuat dosa
dan kini lupa asal usulnya
hingga tak jelas
garis-garis hitamnya
tapi Engkau, Tuhanku
pasti tahu
Engkau Maha tahu
perjelaslah kembali
garis-garis hitam itu padaku
agar segera aku mensucikan diri
hamba berdoa
ampunilah dosa hamba
dan bukalah pintu rahmat bagi hamba

Makkah, l3 Juni l993


DALAM PERJALANAN

dalam perjalanan ratusan km
antara Makkah dan Madinah
telah kudengar ayat-ayat Mu diucapkan
dan bukit dan gunung diam mendengarkan
lembah dan pasir asyik menyimak

mendengar ayat-ayat Mu
punggung gunung batu hitam terbakar
seperti tercelup air dingin
pohon-pohon korma yang kering
seperti mendapat titik gerimis
dan batu-batu yang bertebaran
sepanjang jalan dataran padang
perjalanan
yang terbakar sepanjang tahun
seperti memperoleh curahan hujan
dan tanah pasir yang luas
seperti dimainkan angin yang nyaman
dan pohonan semak dengan dedaunan yang
tipis
yang selalu disengat matahari
seperti mendapat keteduhan gumpalan
awan

mendengar ayat-ayat Mu diucapkan
batu cadas dipinggir jalan
sepanjang perjalanan
seperti mendapat siraman
udara sungai
dengan air melimpah dan jernih

mendengar ayat-ayat Mu ya, Allah
jamaah dalam bus menuju Madinah
menuju rumah terakhir Nabi junjungan
merasa nyaman dan berkah dalam
perjalanan

Makkah - Madinah, l6 Juni l993


LELAKI 56 TAHUN DI MADINAH

kota Madinah
Senin sore diminggu keempat Juni l993
sinar matahari tetaplah panas
menuju mesjid Nabawi
untuk salat magrib
seorang lelaki 56 tahun
membeli dua qur'an
ketika meletakkan ditempat qur'an
di mesjid Nabawi
ia berniat untuk wakaf kakek dan nenek
yang sudah lama pulang kerahmatullah

udara di dalam mesjid Nabawi
dingin sekali
selesai salat magrib
ia berebahkan diri
diatas permadani
rupanya ia ketiduran
begitu terjaga
salat isa akan tiba
karena itu ia buru-buru
ingin mengambil air wudhuk
tapi baru lima langkah
seorang tua datang
bertanya dalam bahasa
yang tak dimengertinya
untunglah orang tua
yang sedikit bungkuk itu
bertanya sambil menggerakkan tangan
kewajah dan kesiku
yang ditafsirkan sebagai wudhuk
tempat wudhuk disana
mari ikut saya
saya juga ingin berwudhuk mendengar kata wudhuk
orang tua itu mengangguk
dan ketika diajak ia ikut
ia menurut
lalu mereka berjalan
perlahan-lahan menuju pintu
dan akan segera ketempat wudhuk

begitu tiba dipintu
lelaki 56 tahun mengambil sandal dari
plastik
lalu memakainya sambil turun ke halaman
ingat pada orang tua
ia menoleh rupanya sedang mengenakan
sandalnya
sambil melambai berkata
kisini, tempat air wudhuk disana
faham isyarat lelaki 56 tahun
orang tua itu mendekat
lalu mereka berjalan beriringan
perlahan-lahan mereka berjalan
mereka berjalan beriringan
ditempat yang agak tinggi
lelaki 56 tahun menunjuk kearah timur
berkata kepada orang tua disampingnya
itu tempat wudhuk
sambil mengajak bersama-sama kesana
tiga langkah berjalan
lelaki 56 tahun menoleh
tetapi aneh
orang tua itu
sudah tak ada
raib

ketika ia ingat-ingat
wajah orang tua tadi
persis sama
dengan wajah kakeknya
yang wafat 30 tahun lalu

Madinah, 22 Juni l993


DOA ORANG BERPAYUNG

orang berpayung itu
melangkah menuju mesjid Nabawi
ia akan melaksanakan salat asar
di bawah matahari Madinah yang terik
ia berdoa
ya Rabbi
izinkan hamba
salat asar lagi
di mesjid Nabawi
meski badan hamba
sangat lemah
(karena buang-buang air sejak pagi)
hamba biar berjalan
perlahan-lahan
hamba tahu keadaan
kesehatan hamba amat merosot hari ini
ini tentu ujian dari Mu
karena itu
biarkan hamba berjalan perlahan-lahan
biarkan hamba merambat
menuju pintu mesjid Nabawi
biarkan hamba terjerembab berkali-kali
tapi, ya Rabbi
izinkan hamba salat asar lagi
di mesjid Nabawi
izinkan kening hamba menyentuh lagi
lantai mesjid Nabawi
izinkan air mata hamba membasahi lagi
pualam mesjid Nabawi

Madinah, 23 Juni l993


YA ALLAH JADIKAN HAMBA

ya Allah
jadikan hamba
angin Madinah
agar dapat menggapai
puncak mesjid Nabawi

ya Allah
jadikan hamba
gerimis Madinah
agar dapat menyiram
dan membasuh tubuh
mesjid Nabawi

ya Allah
jadikan hamba
mata seorang pengunjung Madinah
yang tak bosan-bosan
menikmati keindahan
mesjid Nabawi

ya Allah
jadikan hamba
tangan seorang buta
pengelana Madinah
yang tak pernah lupa
lekuk bentuk
pintu mesjid Nabawi

ya Allah
jadikah hamba
kaki seorang perindu Madinah
yang tak pernah lelah
sehari lima waktu
tersungkur di mesjid Nabawi

ya Allah
jadikan juga hamba
jadi belalang Madinah
yang dengan riang
mengerubungi lampu mesjid Nabawi
kemudian setelah terbakar cahaya
ia mati


Madinah, 23 Juni l993


FADILLAH JUALAN TAS PLASTIK DI BANDARA KING ABDUL AZIZ

Fadillah baru l8 tahun usianya
datang dari Chad di Afrika
mengadu nasib ke Saudia Arabia
datang ke Jeddah
jualan plastik di bandara King Abdul
Aziz

Fadillah agak semampai
hitam orangnya
kulitnya hitam
bajunya juga hitam
ia tawarkan tak plastik
seharga 5 real setiap buahnya

Fadillah datang tersenyum
kepada setiap orang
giginya yang putih
dan matanya yang jernih
mengajak kita membeli dagangannya

Fadillah tertawa
bila dagangannya dibeli
dengan gesit ia melayani
dan bila dikejar polisi
terbirit-birit ia lari

Fadillah datang dari Chad
disudut Afrika
negeri yang kering dan papa
kini mencari nasib di Saudi Arabia
ketika ditanya ibu bapanya dimana
ia melengos pergi
seperti ingin berkata tak usah ditanya
kami sangat menderita
dan matanya yang bersinar
seperti memberi cahaya
bagi ruang hidupnya

Jeddah, 26 Juni l993


JANGAN MARAHI ORANG PINTER

ya Allah
jangan marahi orang yang pinter
yang pergi naik haji
lalu pulang membawa banyak barang
melebihi timbangan
dari yang telah ditetapkan
dan memang ia bisa tak membayar
kelebihan timbangan
karena otak pinternya ia pakai
dengan alasan untuk pelicin
dipemeriksaan
ia menyarankan kepada semua jamaah
untuk memberikan dana tambahan
tak terkecuali
jamaah yang kurang timbangan
dari yang telah ditetapkan

ya Allah
jangan marahi orang yang pinter
yang membawa barang berlebih-lebihan
begitu banyak lebih
sehingga air zamzam
semua jamaah
terpaksa tinggal
dan harus diangkut
dengan pesawat berikutnya
sehingga para jamaah
belum dapat membawa zamzam kerumah

ya Allah
jangan marahi orang yang pinter
yang pulang dari tanah suci
masih bernafsu membawa barang duniawi
meski mereka sudah memotong qurban
yang berarti sudah memotong leher hawa
nafsu dan keserakahan
ya Allah
jangan marahi orang yang pinter
yang baru pulang menunaikan ibadah haji
karena api marah Mu
alangkah panas
sedang ketika wukuf di Arafah
dibawah matahari saja
mereka sudah mengaduh

Jeddah-Jakarta, 26-28 Juni l993

Tidak ada komentar:

Posting Komentar