Selasa, 23 Maret 2010

‘SYAIR MA'RIFAT’ DAN ‘SYAIR MARTABAT TUJUH’ DARI ACEH

Oleh L.K.Ara

Syeikh Abdurrauf dikenal luas sebagai ulama. Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang dilengkapi dengan Syeik Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Namun ia memperoleh sejumlah gelar seperti, Syeikh Kuala, Syeikh di Kuala ata Ciah Kuala dan Tengku Ciah Kuala. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Abdurrauf van Singkel. Sebutan ini semua ada sebabnya. Disebut Syeikh Kuala karena Syeh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wafat¬nya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh. Dan disebut Abdurrauf van Singkil karena Syeikh Abdurrauf lahir di Singkel l593 M), Aceh Selatan.

Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada 'Dayah Simpang Kanan' di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di 'Dayah Teungku Chik' yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansuri.

Syeikh Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi Syeikh Shamsuddin as-Sumaterani. Dan setelah Syeikh Syam¬suddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Syeikh Abdurrauf mendapat kesempatan untuk pergi belajar ke negeri Arab. Selama belajar di luar neg¬eri, lk l9 tahun Syeikh Abdurrauf telah menerima pelajaran dari l5 orang ulama.

Disebut pula Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan l5 orang sufi termashur. Tentang pertemuannya dengan para sufi, ia berkata, 'Adapun segala sufi yang mashur wilayatnya yang bertemu dengan fakir ini dalam antara masa itu...'.

Pada tahun l66l M Syeikh Abdurrauf kembali ke Aceh. Setelah tinggal beberapa waktu di Banda Aceh ia mengadakan perja¬lanan ke Singkel. Kemudian kembali ke Banda Aceh untuk memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniri yang pergi menuju Mekkah.

Mengenai pendapatnya tentang faham orang lain nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin. Syeikh Abdurrauf tidak begitu keras. Hal ini dapat dilihat pada tulisan DR. T. Iskandar: "Walaupun Abdurrauf termasuk penganut fahaman tua mengenai ajaran¬nya dalam ilmu tasauf, tetapi -berbeda dengan Nuruddin ar-Raniri- ia tidak begitu kejam terhadap mereka yang menganut fahaman lain. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir.

Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, apakah gunanya mensia-siakan perkataan atasnya dan sekira¬nya ia bukan kafir, maka perkataan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri'.('Abdurrauf Singkel Tokoh Syatariah (Abad ke-l7)'(Dewan Bahasa, 9;5, Mei l965).

Syeikh Abdurrauf menulis buku dalam bahasa Melayu dan Arab. Bukunya yang terkenal a.l., 'Turjumanul Mustafiid', 'Miraatut Thullab' (Kitab Ilmu Hukum), 'Umdatul Muhtajin lla Suluki Maslakil Mufradin' (Mengenai Ke Tuhanan dan Filsafat), 'Bayan Tajalli' (Ilmu Tasawuf), dan 'Kifayat al-Muhtajin'(Ilmu tasawuf). Seluruh karyanya diulis dalam bentuk prosa. Hanya satu yang ditulis dalam bentuk puisi yakni, 'Syair Ma'rifat'.

Sebagai penyair Syeikh Abdurrauf mempelihatkan kepiawaian¬nya dalam menulis puisi 'Syair Ma'rifat' itulah. Salah satu naskah syair ini disalin di Bukit Tinggi tahun l859. Syair Ma'¬rifat mengemukakan tentang empat komponen agama Islam. Yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma'rifat. Nampak dalam syair itu unsur ma'rifat sebagai pengetahuan sufi yang menjadi puncak tertinggi.
Dalam puisi itu Abdurrauf mencoba menjelaskan tentang pendekatan amalan tasawuf menurut aliran al-Sunnah wal al-Jamaah. Ikuti petikan syairnya dibawah ini,

jikalau diibarat sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa

sebiji kelapa ibarat sama
lafaznya empat suatu ma'ana
di situlah banyak orang terlena
sebab pendapat kurang sempurna

kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma'rifat

('Syair Ma'rifat. Perpustakaan Universiti Leiden OPH. No.78, hlm. 9-25/ Dewan Bahasa dan Pustaka, Desember l992)

Tingkat ma'rifat merupakan tahap terakhir setelah melalui jenjang syariat, tarekat dan hakekat dalam perjalanan menuju Allah. Untuk sampai ke tingkat ma'rifat menurut Syeikh Abdurrauf orang harus lebih dahulu menjalankan aspek syariat dan tarekat dengan tertib. Orang harus melakukan ibadah dengan benar dan ikhlas. Dalam kata-katanya sendiri Syeikh Abdurrauf berucap: "Dan sibukkanlah dirimu dalam ibadah dengan benar dan ikhlas demi melaksanakan hak Tuhanmu, niscaya engkau termasuk golongan ahli ma'rifat".

Suasana mistik akan lebih terasa bila kita membaca dan mengikuti puisinya dalam baris-baris berikut ini. Petikan Syair Ma'rifat dari tulisan Arab berbahasa Melayu, bertulisan tangan ini dikutip dari ML. 378, halaman 40, terdapat di Perpustakaan Nasional RI. berbunyi sebagai berikut,

airnya itu arak yang mabuk
siapa minum jadi tertunduk
airnya itu menjadi tuba
siapa minum menjadi gila

ombaknya itu amat gementam
baiklah bahtera sudahnya karam
laut ini laut haqiqi
tiada bertengah tiada bertepi

Buku karya Syeikh Abdurrauf lainnya diberi judul 'Kifayat al-Muhtajin' disebut bahwa buku itu ditulisnya atas titah Tajul 'Alam Safiatuddin, seorang Sultanah yang mengayomi ulama dan sastrawan. Kitab ini berisi ilmu tasawuf. Disebutkan sebelum alam semesta ini dijadikan Allah, hanya ada wujud Allah. Ulama besar dan pujangga Islam Syeikh Abdurrauf meninggal l695 M dalam usia l05 tahun. Di makamkan di Kuala, sungai Aceh, Banda Aceh.

Di dalam puisi berjudul ‘Syair Maratab Tujuh’, penyair sufi Syeikh Syamsuddin Sumatrani memulai baris-baris syairnya dengan kalimat-kalimat khas sebagai berikut,

Apabila kemudian dengarkan di sini hai yang menuntut haqq
Itulah wujud yang mutlaq wujud yang mutlaq
Wujud itulah ‘ainu ‘l-haqq
Tiada mengering dia adanya mutlaq

Wujud itulah yang bernama tanzil
Adanya munazzah daripada sekalian tasybih
Itu tiada berubah daripada tanzih
…..

wujud itulah martabat layak
menyatakan dirinya dengan rupa yang banyak
dengan hambanya netiasa ia jinak
seketika jua adapun tiada ia jarak
(artinya tiada bercerai)

wujud itulah martabatnya kahtir
tanzihnya lagi kepada ‘alam saghir dan kabir
di sanalah rajul amin dan wazir
dan segala ghani dan faqir

Baris-baris syair yang memperlihatkan nafas ke Tuhanan ini lahir dari sosok penyair yang adalah murid penyair besar sufi Hamzah Fansuri. Seperti gurunya Syamsuddin menggunakan kata-kata yang lazim digunakan pada waktu itu yakni pada zaman abad ke-17. Hal ini nampak pada penggunaan kata-kata misalnya, haq, wujud, mutlaq, martaba, kabir, wazir, faqir dan lain-lain. Didalam syairnya penyair sufi pada zaman itu juga sering menyelipkan ayat Quran. Hal ini dapat juga kita temukan dalam Syair Martabat Tujuh ini. Mari kita ikuti bait-bait berikut ini,

dan wujud itulah martabatnya ‘alami
adanya munazzar daripada sekalian sifat peri
daripada enam jahatpun ia khali (tiada p.s.h?
wa huwa ‘l-ana kama kanapun demikian lagi

pertama-tama wujud itulah bernama ahadiyat
di sanalah sakit sekalian ‘ibarat (tiada tersebut)
di sana sifat dan asma’iyat
itulah martabat haqiqat dzat

‘ibarat dan isyaratpun tiada di sana
hanya munazzah juga semata
adanya itlaq dan taqalyykud tiada
sertanya hanya ia juga

kedua martabat wujud itu bernama wahda
itulah haqiqat Muhammad nyata
yang pertama di dalam uluhinya
…….

Sekalian wujud dhatpun sama
Atas jalan ajmal juga dikata
Hendaklah kau ketahui haqiqat kata
Pikirkan di sini nyata

Ketiga martabat wujud itu bernama wahidiyah
Itulah recana wahdat haqiqat insaniyah
Di sanalah nyata ma’lum di dalam ‘ilmiyah
Atas jalan bernama taghtiyah

Martabat wujud itu ketiganya qadim
Tiada mengetahui dia melaikan yang berhati salim
Banyaklah membantahi dia segala ‘alim
Dan hakim mengatakan ma’lum qadim
(martabat wahidiyah tiada qadim)

…………

arwah itulah yang menggerakkan sekalian badan
adanya seperti dengan sifat Tuhan (kita)
tiada ia minum tiada ia makan
lagi adanya (mujarrad) tiada dapat disekutukan

Syeikh Syamsuddin Sumatrani lahir di penghujung abad XVI, berasal dari Samudra Pasai (Aceh Utara sekarang). Guru utamanya adalah Hamzah Fansuri dan pernah juga belajar pada Pangeran Bonang di Pulau Jawa. Beliau menguasai bahasa Aceh, Melayu, Jawa, Arab dan Parsi juga bermacam-macam bidang ilmu pengetahuan.

Sebagai sastrawan nusantara yang sealiran dengan Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin juga ulama yang tekenal produktif. Ia mengarang lebih dari 20 karya tulis dalam bahasa Melayu, Arab dan Parsia. Diantaranya adalah: ‘Miratul Mukminin’ (Cermin Bagi Orang-Orang Muslimin), ‘Jauharul Haqaaiq’ (Permata Kebenaran), ‘Risalatul Bayin Mulahadlatil Muwahhidin Alal Mulhidi fi Zikrillah’ (Pandangan Ahli-Ahli Tauhid Terhadap Orang Orang Yang Mengingkari Allah), ‘Nurul Daqaaid’ (Cahaya Yang Murni), ‘Miratul Iman’ (Cermin Keimanan), dan ‘Syarah Rubai Hamzah Fansuri’. Syeikh Syamsuddin meninggal dunia pada tahun 1630 bertepatan dengan kekalahan amada Aceh di Melaka.


(dari: Ekspresi Puitis Aceh Menghadapi Musibah, oleh L.K.Ara, diterbitkan BRR, Banda Aceh, tanpa tahun)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar