Senin, 22 Maret 2010

NAGUIB MAHFOUZ SASTRAWAN PERAIH NOBEL DARI MESIR

Oleh L.K.Ara

Naguib Fahfouz seorang sastrawan Arab telah berhasil memenangkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada tahun l988. Ia lahir di daerah Jamaliyyah, Kaherah pada tahun l9ll. Ijazah dalam bidang filsafah telah diperolehnya dari Universitas Kaherah pada tahun l934. Ia pernah bekerja pada penyiaran film kerajaan. Ada 20 buah novel dan cerpen Naquib yang telah diterbitkan. Kebayakan dari karyanya itu telah di filmkan. Karangan-karangannya yang terkenal ditulis antara tahun l945 - l952.

Sebagai sastrawan kenamaan Naguib telah menerima ijazah kehormatan dari negara Prancis, Republik Sovyet Rusia dan Denmark ketika karya-karyanya telah diterjemahkan kedalam berbagai baha¬sa. Pada tahun l970, ia telah dikaruniai Anugerah Sastra Kebangsaan (National Prize for Letter). Serta pada tahun l972 telah memperoleh 'The Collar of the Republic', anugerah yang tertinggi
di negaranya.

Orang tua Naquib berasal dari kalangan kelas pertengahan
saudagar Islam di Kahirah. Ketika berumur 6 tahun mereka pindah
dari kawasan lama, yang sesak dan konsevatif ke kawasan pinggir
kota Abbasyiah yang lebih bercorak Eropah modern. Naquib dibesar
kan dan disekolahkan disitu, yang kemudian memasuki Universitas
Kahirah dan memperoleh ijazah Sarjana Muda Falsafah pada tahun
l934.

Dunia tulis menulis dimasukinya ketika ia masih menjadi
mahasiswa. Ia menulis cerpen dan sering dimuat didalam jurnal-
jurnal sastra. Dari hasil cerpennya itu orang sudah dapat melihat
tentang seorang pemuda yang dengan jujur begitu sensitif terhadap
isu konflik dan tragedi yang melanda kehidupan orang lain. Cer
pen-cerpennya mengingatkan orang pada karya Mustafa al-Manfaluti
yang memang berpengaruh pada Naquib.

Ketika Naquib berusia sekitar 30-an, ia telah menerbitkan
sebuah karya terjemahan Inggeris yang menyentuh tentang kehidupan pada zaman Mesir tua. Kemudian ia menulis 3 buah novel yang
menggambarkan aspek-aspek kehidupan Mesir purba yang mempunyai
makna tertentu yang jelas untuk kaum bangsanya yang masih hidup
dibawah kekuasaan Inggeris dan juga pemerintahan Raja Farouk yang
kejam. Dua buah novel itu menyentuh tentang perjuangan rakyat
Mesir menentang pemerintahan yang zalim. Sedang novel yang ketiga
membayangkan bagaimana orang-orang Mesir menjatuhkan pemerintahan
bangsa Hyksos yang ceroboh.

Sebuah novelnya yang sangat terkenal berjudul 'Lorong
Midaq' (dalam bahasa Arab 'Zuqaq al-Midaq' diterjemahkan kedalam
bahasa Inggeris 'Midaq Alley' oleh Trevor Le Gassick) diterbitkan
di Kaherah pada tahun l947. Di lorong ini terdapat berbagai jenis
manusia dengan berbagai ragam kehidupan. Mereka merupakan satu
pemandangan yang biasa ditemui oleh siapa saja yang pernah hidup
di dalam suasana kemesraan rakyat kecil. Dibawah ini kita petik
pragmennya yang dikutip dari 'Lorong Midaq' (terjemahan Abdullah
Hussain, Dewan Bahasa dan Pustaka, KL, l988).

" Perlahan-lahan sedikit", katanya sambil berjalan
seiring dengan Hamida, "saya ada sesuatu..."

"Berani anda bercakap dengan saya? Anda tidak mengenali
saya". Kini suara Hamida nyaring dan mengandung nada marah.

" Kita sahabat lama... Dalam beberapa hari ini saya melihat
anda lebih daripada yang biasa dilihat oleh tetangga anda selama
bertahun-tahun. Saya telah banyak memikirkan tentang anda, lebih
daripada apa yang dapat difikirkan oleh orang-orang yang rapat
dengan anda. Bagaimana anda boleh mengatakan yang saya tidak
mengenali anda?"

Lelaki itu berkata dengan tenang dan tanpa ragu-ragu.
Hamida memasang telinganya dengan teliti, berusaha sedaya
upayanya untuk mengingat tiap-tiap patah kata lelaki tersebut.
Berhati-hati untuk menyembunyikan kekasaran nada suaranya yang
semula, Hamida kini bercakap dengan nada suara yang disesuaikan:
"Kenapa anda mengekori saya?" "Kenapa saya mengekori anda?". Dia bertanya pura-pura
heran. "Kenapa saya tinggalkan pekerjaan dan duduk di warung kopi
memandang ke atas ke jendela anda? Kenapa saya melepaskan dunia
saya yang sempurna dan pergi tinggal di Lorong Midaq? Dan kenapa
saya sanggup menunggu begitu lama?"

Cerpen-cerpen karya Naguib Mahfouz memang tampak terpengaruh oleh pengarang Mustafa al Manfaluti. Sebagai sebuah contoh
disini dipetik cerpennya berjudul 'Kelaparan' yang diambil dari
Short Story Internasional. Kita ikuti petikannya berikut ini;

Haruskah saya cengkeram leher wanita pulas itu dan lantas
mencekiknya sampai mampus? Tapi, Tuan, ketahuilah, pikiran-
pikiran kotor yang merayap otak saya mengamati anak-anak. Apa
yang akan mereka dapati kalau sampai kehilangan ibu mereka dan
sehabis itu saya, ayah mereka? Saya menjadi ragu dan harus
menahan marah. Untuk melampiaskan kemarahan tak kuasa saya cegah
untuk menendang keras isteri saya sebelum kemudian ngeloyor
pergi. Tangisnya yang menyayat mengikuti langkah-langkah saya.

Tanpa menggubrisnya saya pun kembali ke jalan-jalan di mana saya
biasa mengemis dan berjalan keliling tanpa tujuan pasti. Mestikah
saya kembali dan lantas membereskan nyawa Soliman, atau jika tak
begitu saya telentang dan pura-pura menunggu lewatnya Abdel Qawi
Bey dan kemudian menikam bos saya itu? Namun, oh, saya hanyalah
manusia cacat yang apes dan lemah. Apa daya saya tanpa tangan
kanan begini?

Dengan perasaan ini yang terus menyiksa, langkah sayapun
terseret ke tempat ini. Saya melihat sungai ini baik-baik. Aliran
airnya menghipnotis saya, membuat saya melupakan kepedihan hati
ini, dan akhirnya saya tahu bagaimana melunasi hidup. Nil inilah
yang sesungguhnya saya butuhkan. Nasib telah membimbing saya
kesini untuk memasuki suatu jalan ke pembebasan diri (dari deri
ta) dan kedamaian abadi. Niat mati sedikit demi sedikit menyerang
sampai benar-benar menguasai saya ketika saya pikirkan tentang
cacat saya ini, kelemahan, kelaparan saya, keluhan anak-anak dan
Ć penderitaan mereka. Saya masih bersyukur kepada Tuhan yang telah
mencabut amarah saya hingga saya tak jadi membunuh isteri.

Malah dengan kepergian ini saya memberi dia keleluasaan untuk menghidu
pi anak-anak kami yang masih kecil secara jujur. Entah lewat
Soliman atau orang lain itu bukan masalah. Saya satu-satunya yang
berdosa maka sayalah yang pantas menjadi korban. Dan ketika saya
akan menyudahi kisah semua ini, Tuan malah berdiri di antara saya
dan niat pembebasan itu. Nah Tuan, sekarang tahukah Tuan alangkah
salahnya tindakan Tuan itu?

Semenjak tadi pemuda Abdel Qawi telah mendengarkan
penuturan lelaki itu dengan penuh perhatian.

"Apa kamu bermaksud melakukannya lagi?" tanya Abdel
Qawi kemudian.

Jawaban kalem dan sudah jadi keputusan pun meluncur
pasti dari mulut lelaki kumal itu: "Tak usah ditanya. Pasti".

Abdel Qawi tersenyum lebar. Dia merogoh sakunya,
mengambil uang l0 piaster-an dan mengulurkannya kepada lelaki
itu, sambil berkata: "Ayo, ambillah ini. Ayolah ambil. Besok pagi
datanglah ke pabrik tempatmu bekerja dulu. Aku akan berada
disana. Dan ini kartu namaku. Tunjukkan kartu ini kepada siapapun
yang mencoba mencegahmu masuk".

Pemuda Abdel Qawi menarik lelaki itu dari parapet. dan
seraya menambahkan: "Urungkan keputusanmu untuk mati. Masih ada
harapan. Aku akan mencarikan kamu satu pekerjaan entah sebagai
porter atau apa sajalah nanti. Nah sekarang marilah kita
tinggalkan tempat ini. Kamu pulanglah dan gunakanlah akal sehat.
Tapi, o ya, siapa namamu?"

(dari : Arsip lama)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar